Rabu, 18 April 2012

FANFICTION 'TWIN' - SHINee's KEY

Diposting oleh Utari di 04.33

Title : Twin
Main cast : Kim Ki Bum (shinee)
Other cast : Kim Ki Hyun (imajinary cast, kibum’s twin brother), Han soora
Author : S Ulfa Utari
Genre : Brothership, Angst and a little bit Romance
Type      : one shoot
Rating  : PG - 13
Disclaimer  : this plot is mine and this is real my  fanfiction,asli buah karya saya :D. Kalopun ada kesamaan tokoh, alur, latar dsb hanya kebetulan semata. Kim Ki Hyun hanya karakter imajinasi, han soora (hana) adalah nama korea temenku :D

Prolog :
“hyung.. jebbal hyung, jangan lakukan hal bodoh itu hyung..” lirihnya
“apa pedulimu, kau sudah merebut semuanya dariku, kuulangi, SEMUANYA KAU REBUT, PUAS KAU”

All Kim Ki Bum POV
“saengil chukkahamnidaa, saengil chukkahamnidaa saranghaenun uri hyun-ah saengil chukkahamnidaaa”
Aku memandang kecut pemandangan didepanku, kenapa umma dan appa lebih menyayanginya, kenapa bukan aku yang disana, kenapa harus aku yang duduk diam disini, kenapa?
Sejak lama aku tahu bahwa dia pasti akan lebih dibanggakan, bagaimana tidak? Apa yang bisa mereka harapkan dariku? Hanya seorang anak yang lumpuh, tak berguna dan menyusahkan saja, bukankah aku benar?
Ini semua salahnya, karna dia aku jadi lumpuh, karena dia aku tidak bisa meraih mimpiku, karena dia kasih sayang orang tuaku terbagi. Kenapa dia harus lahir?
Aku muak mendengar suara serak itu, aku muak dengan wajahnya, yang amat kusesali, mirip dengan wajahku, yah, aku dan dia adalah saudara kembar. Dan kebetulan sekali, aku kakaknya.
“saengil chukkahamnida kibum-ah,” umma dan appa berganti menghampiriku, mencium kilas pipiku, aku tersenyum terpaksa,
“ini untukmu sayang,”appa menyodorkan sebuah bungkusan besar kado ke arah hyun, aku tersenyum pahit, aku sudah biasa di nomor duakan.
“dan ini untukmu kibum,” appa juga memberiku hadiah, entah apa kedua hadiah ini sama, dia selalu lebih dariku, dalam hal apapun.
Dia membuka bungkusan hadiahnya, sebuah gitar klasik berwarna coklat, sungguh, aku menginginkan itu. Sedangkan aku? Aku menatap bungkusan dipangkuanku, hanya sebuah benda  tak berguna, untuk apa mereka memberiku benda yang tidak bisa aku mainkan lagi? Apa mereka ingin aku hancur?
“hyung, kau suka kadonya? Aku dan appa yang memilihkannya untukmu, disitu ada tanda tangan pemain favoritmu juga,” dia berkata sambil menunjukan senyumnya yang sungguh memuakkan. Apa tujuannya memeberiku bola basket ini? Untuk meledekku? Aku memang sudah tidak bisa merasakan kedua kakiku, tapi aku bisa merasakan sakit dihatiku.
“yeah, aku suka sekali,” kulemparka bola itu dengan kasar, mengakibatkan beberapa vas bunga koleksi umma pecah,
“yaa, kibum-ah apa yang kau lakukan?”kata appa sedikit berteriak ,
“memainkan bolaku, bukankah itu yang dia mau?” aku menunjuk hyun dengan daguku, lalu mengarakhkan kursi rodaku kea rah kamar, dan sesegera mungkin menutup pintu, aku sudah sangat muak berada di sana.
Kau tahu kenapa aku membencinya? Karena dia yang merebut semua dariku.

FLASHBACK
“bummie, tolong jemput hyun-ah di sekolahnya,” umma berteriak memintaku menjemput anak manja itu, kenapa dia selalu merepotkanku huh?
“arraseo,” aku bergegas mengambil kunci motorku, hari sudah gelap dan aku bingung kenapa anak itu masih berada di sekolahnya.
Aku melaju dengan kecepatan sedang, jalanan licin karena hujan sempat turun sebelumnya.
Kulihat dia sedang berjongkok di depan halte sambil sesekali menggosokkan kedua tangannya, aku mengklaksonnya dan dia menoleh, “hyuung” serunya.
Semua yang ada di halte melihat kea rah kami, mungkin heran dengan kemiripan wajah kami, aku mendengus, begitu herankah mereka melihat anak kembar?
“hyung, nanti pulang mampir sebentar ke toko itu ya?” dia menunjuk sebuah toko dipinggir jalan,
“arra, sekarang cepat naik,”perintahku, aku sudah hampir beku disini,
Lalu, kejadian itu berlangsung cepat, saat aku dan hyun hendak menyeberang dari jauh terlihat mobil yang melaju kencang bergerak kea rah kami, aku memekik, membanting stang kea rag trotoar, hyun terlempar beberapa meter, dan aku? Entahlah, serasa ada beban berat di kakiku, dan setelah itu aku tidak ingat lagi.
END OF FLASHBACK
Aku memejamkan kedua mataku, bayangan itu kembali hadir, sejak saat itu, aku tak bisa merasakan apapun pada kedua kakiku, bahkan umma dan appa lebih mengkhawatirkannya, padahal aku lebih menderita disini.
“key-ah?” ada seseorang yang memanggilku, aku berbalik, mendapati han soora, tetangga sekaligus sahabat kami, tersenyum padaku. Hanya dia, hanya dia yang mengerti perasaanku, tapi sayangnya dia juga mengerti perasaannya. Kenapa semua harus terbagi?
“soora-ya,”
Dia berjalan mendekatiku, duduk di tepi kasurku.
“ini untukmu,”
Dia menyerahkan satu bungkusan kecil padaku,
“apa ini?” tanyaku setelah menerima hadiahnya, menimbang sejenak, lalu membuka bungkusnya, “wow, ini keren soora-ya,” sorakku ketika mendapati bungkusan itu berisi sebuah jas namun terkesan casual.
“aku tahu seleramu, key,” hanya dia yang memanggilku key, karna menurutnya namaku terlalu monoton.
“gomawo,” aku tersenyum padanya,
“cheonma, aku boleh meminta sesuatu padamu?” tanyanya penuh harap, aku sudah menebak apa yang akan ia minta,
“jika kau memintaku untuk memaafkan dia, aku tidak mau, ah ya, itu juga berlaku untuk ajakanmu sekolah,” dengusku,
“tapi key, ini sudah tahun terakhir sma, kau tidak mau menyelesaikannya? Bukannya kau ingin masuk unversitas inha?”
“untuk apa? Untuk menjadi tontonan mereka, ‘waw seorang kim ki bum sekarang lumpuh?’, aku tidak mau,” aku membalikan badan, untuk apa lagi aku punya mimpi, semua sudah terenggut olehnya.
Soora menghampiriku lalu menyentuh pundakku,
“kembalilah seperti key yang dulu, sebelum ini semua terlambat key,”
------------------------
Aku sedang berada di kamar dengan pintu sedikit terbuka ketika mendapati soora dan hyun berpegangan tangan. Hyun seperti sedang mengatakan sesuatu yang penting, terlihat dari raut wajahnya. Apa dia menembak soora? Tak cukup dia mengambil kasih saying oang tuaku, sekarang dia juga ingin mengambil soora?
Aku tak tahan melihat itu, ku banting pintu kamarku sekeras mungkin, membuat kegaduhan dirumah.
“hyung? Ki bum hyung? Gwechanayo?” aku mendengar pintu kamarku diketuk oleh hyun, dia mencoba membuka pintu.
Aku melempar apapun benda yang ada di sekitarku ke arah pintu, dan dia terus menanyaiku pertanyaan bodohnya.
“hyung, hyung dengar aku? Hyung ada apa?”
Hah? Ada apa katanya? Ini semua karenanya.
Aku semakin membabi buta, melemparkan semua yang kutemukan, sekarang isi kamarku tak beraturan, dan suara didepan pintu sekarang didominasi oleh soora dan umma.
“key-ah? Gwechana? Kau kenapa key?”
“bummie? Kim kibum? Gwechana nak?”
Apa peduli mereka padaku, bukankah aku hanya merepotkan mereka, bukannya sudah ada hyun yang mereka banggakan, kenapa mereka masih peduli padaku?
“APA PEDULI KALIAN HA? BUKANNYA AKU SUDAH TIDAK BERGUNA? APA YANG KALIAN HARAPKAN DARIKU? SIMPAN SAJA KASIH SAYANG KALIAN UNTUK SEORANG KIM KI HYUN YANG KALIAN SAYANGI ITU!!” aku berteriak, mengeluarkan segala yang ada di hatiku.
Pintu kamarku sedikit demi sedikit terbuka, mungkin appa yang berusaha mendobraknya. Aku mengambil gunting yang tergeletak begitu saja di lantai, bukankah aku sudah tidak berguna?
“ki bum! Ini appa, buka pintunya atau appa akan mendobraknya!” suara tegas appa terdengar,
“SILAHKAN SAJA, AKU TIDAK PEDULI, AKU AKAN PERGI DARI SINI!! SELAMANYA!!!” aku mencoba meraih gunting itu, jaraknya terlalu jauh, aku tidak bisa menggapainya, aku menjatuhkan diriku, tepat saat aku berhasil meraih gunting itu, pintu terbuka.
“hyung!”
“key!!”
“kibum!!”
“apa? Bukankah ini yang kalian mau? Kalian mau aku pergi kan? Dan kau hyun, kau puaskan jika aku pergi hah?”
“key, hentikan semua omong kosong ini key!!” bentak soora,
“hah? Omong kosong? Omong kosong katamu? Omong kosong apa? Dia telah merebut semuanya dariku, itu benar kan? Siapa yang menyamai wajahku? Dia kan? Siapa yang merebut kasih sayang appa dan umma? Dia kan? Siapa yang membuat aku lumpuh? Di kan? Lalu, siapa yang memenangkan audisi itu? Dia kan? Kenapa, kenapa bukan aku, aku sudah bermimpi memenangkan audisi itu, dan kalau bukan karena dia, aku pasti sudah lolos. Dan kau soora, kau juga akan direbut olehnya, apa itu semua OMONG KOSONG??” kulihat ekspresi syok mereka, biarlah, biarlah semua yang kurasakan terungkap, biarlah rasa sakit ini memuncak, dan sebentar lagi aku bisa lepas dari semua ini.
“hyung, dengarkan aku dulu, aku tidak bermaksud merebut semuanya dari hyung, dan soora, dia dia hanya mau membantuku” pintanya, hah?
tidak bermaksud? kau tahu? Aku muak denganmu, aku menyesal mengenalmu, dan sungguh aku berharap kau tidak pernah ada di dunia ini”
“hyung.. jebbal hyung, jangan lakukan hal bodoh itu hyung..” lirihnya
“apa pedulimu, kau sudah merebut semuanya dariku, kuulangi, SEMUANYA KAU REBUT, PUAS KAU”
“tapi ini bukan jalan untuk menyelesaikannya key, ini semua salah paham,” soora mendekatiku, aku membuang muka,
“hah? Menyelesaikan apa? Ini semua akan selesai ketika aku pergi, dan kalian, bisa berbahagia tanpa aku kan?”
“cukup kim kibum,” appa mendekat dan menamparku, aku tersentak, lalu sebisa mungkin tersenyum,
“lihat? Kau lihat? APPA MENAMPARKU!! Apa masih bisa ini disebut omong kosong!!! HAH?”
“bummie,” umma terlihat terpukul, aku minta maaf umma, tapi sepertinya ini yang terbaik. Perlahan aku mengarahkan gunting itu ke arah pergelangan tanganku,
“KEY!!!” soora menepis gerakanku, apa yang bisa aku lakukan, terlalu sulit melawan jika kau lumpuh, namun aku tak tinggal diam, aku mengambil pecahan gelas yang aku lemparkan tadi, tapi hyun mengerti gerakanku, tanpa sengaja pecahan gelas itu menusuk perutnya, aku tersentak, darah hyun mengalir diantara jari jariku yang masih memegang gelas itu, appa dan umma panik, appa segera menekan ponselnya, umma menahan tubuh hyun. Soora, dia terlihat terpukul.
Aku hanya bisa diam, menutup kedua telingaku mengacak-ngacak rambutku, aku kembali membabi buta, tanganku yang berlumuran darah, aku melihatnya. Itu darah hyun, aku membunuhnya, aku seorang pembunuh.
“hyun, hyun-a, hyun,” umma mengguncang tubuh hyun, aku melihat dengan tatapan kosong, aku yang melakukan itu, aku membunuh hyun, aku aku….
“cepat, ambulance sudah datang,” appa mengambil alih, menggendong tubuh hyun dan membawanya keluar, soora dan umma mengikuti, tapi kemudian soora berbalik dan menatapku dengan sendu, “key,” katanya lalu berlalu.
“aaaaaaaaarrrrrrrrrrrrrrrrrgggggggggggggggggggggghhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!!!!”

Epilog~
“saengil chukkahamnida hyung,” seorang lelaki berusia 20 tahun meletakkan sebuket bunga di atas makam ,disampingnya seorang yeoja menunggunya dengan sabar,  ia berjongkok lalu tersenyum pada foto kakaknya.
Kakaknya terlihat bahagia dengan senyuman yang mengembang dibibirnya, di tangannya sebuah piala tergenggam.  ‘in memoriam KIM KI BUM’
“aku selalu menyayangimu hyung, apapun yang terjadi,” bisiknya, kemudian beranjak meninggalkan pemakaman, senyum terpatri di wajahnya, wajah yang sama dengan wajah kakaknya. Selamanya, mereka adalah satu.

 


0 komentar:

Posting Komentar

 

imagine the world Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea